Microsoft Ungkap Serangan Rantai Pasok ConnectWise yang Melibatkan Agen AI Peretas

Microsoft mengungkap kampanye serangan siber berskala global yang melibatkan penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan untuk mempercepat pembobolan sistem perusahaan. Dalam laporan keamanan yang diterbitkan pada 21 Oktober 2026, Microsoft mengidentifikasi kelompok peretas Storm-0940 sebagai pihak yang diduga bertanggung jawab atas kompromi rantai pasok layanan ConnectWise Cloud Backup. Kelompok tersebut menggunakan kerangka kerja agen AI bernama ARTEX untuk mengotomatiskan berbagai aktivitas serangan. Peristiwa ini menjadi perhatian industri TEKNOLOGI karena memperlihatkan bagaimana kecerdasan buatan dapat mempercepat serangan terhadap layanan cloud, aplikasi tepercaya, dan infrastruktur digital perusahaan dalam waktu yang sangat singkat.
Kelompok Storm-0940 Diduga Terlibat dalam Kompromi ConnectWise
Temuan penelitian dari Microsoft mengungkapkan bahwa risiko serangan digital semakin berkembang seiring perkembangan sistem otomatisasi digital. Melalui publikasi keamanan itu, Microsoft Threat Intelligence mengidentifikasi Storm-0940, yaitu aktor siber yang menurut Microsoft terkait kepentingan negara China. Pelaku yang diidentifikasi Microsoft diduga bertanggung jawab dengan kompromi aplikasi multi-tenant milik ConnectWise. Target utamanya berkaitan dengan ConnectWise Cloud Backup, sebuah platform perlindungan data daring. Akibat penyusupan terhadap layanan tepercaya, penyerang berupaya menjangkau lingkungan pelanggan yang telah mempercayai integrasi perangkat lunak tersebut.
Menurut penelitian Microsoft, Storm-0940 memiliki riwayat aktivitas setidaknya sejak 2021. Pada aktivitas serangan sebelumnya, kelompok tersebut mengandalkan teknik seperti password spraying dan serangan terhadap perangkat lunak yang dapat diakses dari jaringan luar. Ketika berhasil masuk ke sistem, pelaku melakukan aktivitas lanjutan melalui identitas digital yang disalahgunakan. Dalam kampanye terbaru, penggunaan ARTEX berperan dalam mengotomatisasi beberapa tahapan serangan. Perubahan tersebut membuat waktu respons menjadi semakin penting karena serangan dapat berjalan secara paralel.
Microsoft Jelaskan Penggunaan Kecerdasan Buatan oleh Peretas
Komponen utama dalam kampanye serangan tersebut adalah penerapan platform pengujian keamanan ARTEX. ARTEX merupakan framework penetration testing open source. Dalam rancangan teknologinya, ARTEX menggunakan sistem multi-agent berbasis large language model untuk mengotomatisasi aktivitas pemeriksaan sistem. Sistem otomatisasi itu menggunakan Go sebagai bahasa pengembangan dan antarmuka Next.js. Untuk kebutuhan pengujian berizin, kemampuan tersebut mendukung penilaian keamanan organisasi. Akan tetapi, teknologi yang sama mungkin dipakai tanpa persetujuan pemilik sistem.
Dalam kampanye Storm-0940, ARTEX berperan membantu pelaksanaan aktivitas pengintaian terhadap infrastruktur, percobaan autentikasi, dan penyalahgunaan aplikasi OAuth. Penggunaan sistem berbasis kecerdasan buatan membantu menjalankan banyak pekerjaan secara paralel. Dalam temuan penelitian tersebut, beberapa serangan berbantuan ARTEX mencapai kendali berprivilege tinggi pada lingkungan tertentu dalam waktu di bawah tiga jam. Namun penting untuk dipahami, tidak semua organisasi yang disasar berhasil dikompromikan. Temuan ini memperlihatkan perlunya respons keamanan yang lebih cepat.
Bagaimana Serangan Rantai Pasok Menjangkau Pelanggan ConnectWise
Untuk memahami dampak serangan, penting untuk mengenali peran aplikasi multi-tenant dan OAuth dalam lingkungan komputasi cloud. Aplikasi multi-tenant memungkinkan satu aplikasi digunakan berdasarkan mekanisme otorisasi yang telah disetujui. Ketika sistem bekerja sebagaimana mestinya, integrasi tersebut mendukung operasional perangkat lunak tanpa membutuhkan autentikasi manual setiap saat. Ketika identitas aplikasi berhasil dikompromikan, hubungan kepercayaan tersebut dapat menjadi jalur akses tidak sah.
Berdasarkan temuan mengenai aplikasi Cloud Backup, pelaku menguasai material autentikasi aplikasi tertentu. Dalam aktivitas lanjutan, sistem berbantuan AI mencoba masuk ke lingkungan pelanggan dengan mengandalkan hubungan otorisasi yang sudah ada. Untuk sebagian sistem pelanggan, Microsoft menemukan operasi setelah autentikasi melalui Microsoft Graph, termasuk pengumpulan data konfigurasi cloud, perubahan kredensial aplikasi, dan upaya mengubah hak istimewa. Tindakan penyerang tersebut mungkin memungkinkan keberlanjutan akses tidak sah bahkan setelah integrasi awal diperbaiki. Meski demikian, keberhasilan login tidak otomatis membuktikan pencurian data.
Skala Serangan ConnectWise dan Temuan Keamanan Microsoft
Dalam publikasi keamanannya, Microsoft menjelaskan, kampanye Storm-0940 menargetkan organisasi secara global. Sejak September 2026, kelompok tersebut menggunakan ARTEX untuk menyasar ratusan organisasi. Sektor yang menjadi sasaran menjangkau industri pertahanan dan energi, termasuk perusahaan semikonduktor. Dalam bagian kampanye yang diperiksa, Microsoft mendeteksi jumlah percobaan gagal melebihi 151 ribu pada periode 10 hingga 14 Oktober 2026. Aktivitas otomatis tersebut diarahkan kepada ratusan identitas pada delapan organisasi. Walaupun aktivitasnya sangat intensif, Microsoft melaporkan bahwa percobaan tersebut tidak menghasilkan akses berhasil.
Pada rangkaian serangan terhadap pelanggan Cloud Backup, ARTEX digunakan untuk mencoba autentikasi ke lebih dari 2.250 tenant. Jumlah tenant yang ditargetkan memperlihatkan potensi dampak hubungan aplikasi multi-tenant. Namun demikian, percobaan autentikasi bukan bukti seluruh pelanggan dibobol. Ketika masalah keamanan ditemukan pada 14 Oktober, ConnectWise mulai menjalankan investigasi dan respons insiden. Perusahaan kemudian mengumumkan informasi awal kepada mitra pada 16 Oktober. Bagian operasional yang terdampak melibatkan Cloud Backup serta dua layanan terkait lainnya yang dinonaktifkan sementara sebagai langkah kehati-hatian.
Strategi Mencegah Penyalahgunaan Kredensial dan Hak Akses
Untuk menghadapi ancaman tersebut, Microsoft merekomendasikan organisasi yang menggunakan integrasi terdampak agar tidak langsung mengaktifkan kembali aplikasi yang terdampak. Di samping pembatasan akses, administrator disarankan meninjau lingkungan Microsoft 365 yang pernah menggunakan integrasi. Pemeriksaan tersebut perlu memakai identitas aplikasi yang akurat, bukan hanya judul aplikasi pada daftar integrasi. Hal ini berguna untuk menemukan aplikasi yang mungkin terlewat. Sebagai bagian dari rekomendasi keamanan meminta organisasi menjaga catatan audit sebelum melakukan perubahan yang tidak dapat dibatalkan. Dengan demikian, tim keamanan memiliki informasi pendukung investigasi.
Untuk meningkatkan perlindungan cloud, organisasi perlu meninjau log Microsoft Entra, Microsoft 365, dan aktivitas Microsoft Graph. Evaluasi keamanan perlu memperhatikan autentikasi service principal, modifikasi sertifikat dan kredensial aplikasi, serta peningkatan hak akses yang tidak biasa. Apabila aktivitas mencurigakan terbukti, administrator harus mempertimbangkan rotasi kredensial terdampak. Konsep pemberian hak akses minimum menjadi bagian penting strategi pertahanan karena akses administratif perlu dibatasi secara proporsional. Selain itu, organisasi dianjurkan menggunakan pemantauan keamanan otomatis agar percobaan serangan dapat dikenali lebih cepat.
Kesimpulan tentang Serangan AI terhadap ConnectWise
Laporan keamanan terbaru Microsoft menunjukkan bahwa penggunaan sistem agen cerdas menghadirkan tantangan baru dalam industri keamanan siber. Melalui penggunaan ARTEX, pelaku berhasil meningkatkan kecepatan operasi tertentu terhadap layanan cloud dan aplikasi tepercaya. Insiden kompromi layanan ConnectWise juga menunjukkan dampak penyalahgunaan hubungan kepercayaan pihak ketiga. Meskipun ribuan tenant menjadi sasaran, jumlah sasaran tidak sama dengan jumlah korban yang berhasil dibobol. Sebagai pelajaran dari insiden ini, organisasi perlu memperkuat pemantauan dan menerapkan prinsip hak akses minimum. Bagaimana pendapat Anda, apakah pemanfaatan AI dalam keamanan siber akan menjadi kebutuhan utama perusahaan di masa depan? Mari berbagi pandangan mengenai perkembangan ini tentang tantangan serangan siber berbasis AI.








